Thursday, 27 October 2016

cara audit terhadap siklus produksi

AUDIT TERHADAP SIKLUS PRODUKSI PENGUJIAN SUBSTANTIF TERHADAP SALDO SEDIAAN SEDIAAN Sediaan merupakan unsur aktiva yang disimpan dengan tujuan untuk dijual dalam kegiatan bisnis yang normal atau barang-barang yang akan dikonsumsi dalam pengolahan produk yang akan dijual. Kekayaan perusahaan yang tidak dimasukkan ke dalam kelompok sediaan karena kekayaan tersebut tidak dijual dalam kegiatan bisnis normal perusahaan adalah sediaan yang menunggu saat penjualan dan surat berharga yang disimpan untuk dijual di kemudian hari. Di dalam perusahaan dagang, sediaan terutama terdiri dari sediaan barang dagangan. Dalam perusahaan manufaktur, sediaan terdiri dari sediaan bahan baku dan bahan penolong, sediaan produk dalam proses, sediaan produk jadi, sediaan suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik (factory supplies). Sediaan umumnya mendapat perhatian yang lebih besar dari auditor di dalam auditnya karena alasan berikut ini: 1. Umumnya sediaan merupakan komponen aktiva lancar yang jumlahnya cukup material dan merupakan objek manipulasi serta tempat terjadinya kesalahan-kesalahan besar. 2. Penentuan besarnya nilai sediaan secara langsung mempengaruhi kos barang yang dijual (cost of good sold) sehingga berpengaruh pula terhadap perhitungan laba tahun yang bersangkutan. 3. Verifikasi kuantitas, kondisi, dan nilai sediaan merupakan tugas yang lebih kompleks dan sulit dibanding dengan verifikasi sebagian besar unsur laporan keuangan yang lain. 4. Seringkali sediaan disimpan di berbagai tempat sehingga menyulitkan pengawasan dan penghitungan fisiknya. 5. Adanya berbagai macam sediaan menimbulkan kesulitan bagi auditor dalam melaksanakan auditnya. Tujuan Pengujian Substantif terhadap Sediaan 1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan. 2. Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan sediaan. 3. Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca. 4. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca. 5. Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca. 6. Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan sediaan. Sebelum auditor melakukan pengujian substantif terhadap kewajaran saldo sediaan yang dicantumkan di neraca, ia harus memperoleh keyakinan mengenai ketelitian dan keandalan catatan akuntansi yang mendukung informasi sediaan yang disajikan di neraca. Untuk itu auditor melakukan rekonsiliasi antara saldo sediaan yang dicantumkan di neraca dengan akun sediaan di buku besar dan selanjutnya ke jurnal pembelian atau register bukti kas keluar (jika klien menggunakan voucher system dengan basis waktu), jurnal pengeluaran kas atau check register (jika klien menggunakan voucher system dengan basis tunai), jurnal pemakaian bahan baku, jurnal umum, dan ke buku pembantu sediaan. Membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan sediaan. Untuk tujuan ini, auditor melakukan berbagai prosedur audit guna membuktikan eksistensi aktiva yang bersangkutan dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kelengkapan aktiva yang disajikan di neraca dan transaksi yang berkaitan dengan aktiva tersebut, membuktikan kepemilikan atas aktiva tersebut, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tersebut pada tanggal neraca, membuktikan kewajaran penilaian aktiva tersebut pada tanggal neraca, membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan aktiva tersebut di dalam laporan keuangan. Dalam hubungannya dengan pengujian substantif terhadap sediaan, salah satu tujuan auditnya adalah untuk membuktikan asersi keberadaan sediaan yang dicantumkan di neraca dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan sediaan. Untuk membuktikan asersi tersebut, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: 1. Prosedur analitik 2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan 3. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan 4. Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan 5. Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar Membuktikan asersi kelengkapan transaksi yang berkaitan dengan sediaan yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo sediaan yang disajikan di neraca. Untuk membuktikan bahwa saldo sediaan yang dicantumkan di neraca mencakup semua sediaan pada tanggal neraca dan mencakup semua transaksi yang berkaitan dengan sediaan dalam tahun yang diaudit, auditor melakukan berbagai pengujian substantif berikut ini: 1. Pengujian analitik 2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan 3. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan 4. Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan 5. Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar Transaksi yang berkaitan dengan timbul dan berkurangnya sediaan mempunyai pengaruh yang langsung terhadap penghitungan saldo sediaan pada tanggal neraca, sehingga ketidaktepatan dalam penetapan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan sediaan akan berdampak langsung terhadap penghitungan saldo akun sediaan dan kos barang yang dijual (cost of goods sold). Oleh karena itu, salah satu pengujian substantif untuk membuktikan asersi kelengkapan sediaan adalah pemeriksaan terhadap ketepatan pisah batas transaksi yang bersangkutan dengan sediaan. Membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca. Sediaan yang ada pada tanggal neraca belum tentu merupakan hak milik klien, karena sediaan yang ada di tangan klien merupakan barang titipan perusahaan lain atau digadaikan sebagai jaminan penarikan utang. Untuk membuktikan asersi hak kepemilikan klien atas sediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: 1. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan 2. Pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan 3. Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar 4. Pemeriksaan perjanjian konsinyasi Membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca. Berdasarkan Prinsip Akuntansi Berterima Umum (PABU) dalam penyajian sediaan di neraca, sediaan harus disajikan di neraca pada nilainya pada tanggal neraca. Nilai sediaan yang disajikan di neraca harus dipilih di antara mana yang lebih rendah antara kos dengan harga pasar sediaan tersebut pada tanggal neraca. Oleh karena itu, salah satu tujuan pengujian substantif sediaan adalah membuktikan kewajaran inventory costing dan inventory pricing yang digunakan oleh klien dalam mencantumkan nilai sediaan di neraca. Untuk membuktikan asersi penilaian sediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: 1. Pengujian analitik 2. Pemeriksaan bukti pendukung transaksi yang berkaitan dengan sediaan 3. Pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan 4. Permintaan informasi mengenai metode penilaian sediaan yang digunakan oleh klien 5. Pemeriksaan kesesuaian kos per satuan sediaan dengan PABU 6. Pemeriksaan catatan pendukung yang berkaitan dengan data kos per satuan sediaan 7. Pelaksanaan gross-profit test 8. Meminta surat representasi sediaan dari klien Membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan di neraca. Penyajian unsur-unsur laporan keuangan dan pengungkapannya harus didasarkan pada prinsip akuntansi berterima umum. Pengujian substantif terhadap sediaan diarahkan untuk mencapai salah satu tujuan membuktikan apakah unsur sediaan telah disajikan dan diungkapkan oleh klien di neracanya sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Untuk membuktikan asersi penyajian dan pengungkapan sediaan yang dicantumkan di neraca, auditor melakukan pengujian substantif berikut ini: 1. Pemeriksaan terhadap perjanjian konsinyasi 2. Pemeriksaan penggolongan sediaan dalam neraca 3. Pemeriksaan pengungkapan sediaan di neraca Program Pengujian Substantif terhadap Saldo Sediaan Prosedur Audit Kertas Kerja Tgl Pelaksanaan Pelaksana Prosedur Audit Awal 1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun sediaan yang akan diuji lebih lanjut • Usut saldo sediaan yang tercantum di neraca ke saldo akun sediaan yang bersangkutan di buku besar. • Hitung kembali saldo akun sediaan di buku besar. • Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber penting dalam akun. Prosedur Analitik 2. Lakukan prosedur analitik. Hitung ratio berikut ini: • Tingkat perputaran sediaan. • Ratio laba bersih dengan sediaan. • Ratio sediaan dengan volume penjualan yang diharapkan. Pengujian terhadap Transaksi Rinci 3. Melalui pengujian, lakukan pemeriksaan atas dokumen pendukung transaksi yang dicatat dalam akun sediaan. 4. Lakukan pengujian pisah batas transaksi yang berkaitan dengan sediaan. Pengujian terhadap Saldo Akun Rinci 5. Lakukan pengamatan terhadap penghitungan fisik sediaan. 6. Konfirmasi sediaan yang berada di tangan pihak luar. 7. Periksa perjanjian konsinyasi. Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan 8. Bandingkan penyajian sediaan dengan prinsip akuntansi berterima umum. • Periksa klasifikasi sediaan di neraca. • Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan sediaan. Sediaan dan Cadangan depresiasinya. • Lakukan analitycal review terhadap sediaan.